BANTARAN, [10 Agustus 2026] – Hari ini, Kantor Urusan Agama Kecamatan Bantaran menorehkan jejak pengabdian yang mengalir deras, bermula dari ketelitian administrasi di ruang PTSP hingga berujung pada kekhusyukan fisik di serambi masjid. Sebuah harmoni antara pelayanan birokrasi yang transparan dan aksi sosial yang menyucikan hati.
Pagi dibuka dengan layanan prima di PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu). Bapak Muchlas, seorang tokoh masyarakat dari Desa Besuk, hadir dengan membawa harapan besar bagi majelis ta’lim yang ia naungi. Dengan didampingi petugas yang ramah dan sabar, proses pengajuan Sertifikat Wakaf/SKT (Surat Keterangan Terdaftar) Majelis Ta’lim berjalan lancar.
Yang membuat momen ini istimewa adalah penerapan prinsip MAHAR (Mari Hindari Gratifikasi). Tidak ada biaya tersembunyi, tidak ada "uang rokok", dan tidak ada proses yang dipersulit. Semua dilakukan sesuai prosedur, transparan, dan cepat. "Ini adalah hak Bapak Muchlas dan umat untuk memiliki legalitas atas tempat ibadah mereka," ujar petugas sambil menyerahkan berkas dengan senyuman tulus. Bagi KUA Bantaran, melayani pengurusan SKT MT bukan sekadar urusan kertas, melainkan upaya negara untuk melindungi aset dakwah agar tetap abadi dan bermanfaat bagi generasi penerus. Kepuasan Bapak Muchlas menjadi bukti bahwa integritas adalah kunci kepercayaan umat.
Menjelang siang, semangat pengabdian bergeser dari meja kerja ke area suci. KUA Kecamatan Bantaran turut serta meramaikan Geber Mas Bro (Gerakan Bersih-Bersih Masjid Bersama Probolinggo) yang dilaksanakan serentak se-Indonesia. Lokasi kali ini adalah Masjid Besar Sabilillah Bantaran, sebuah ikon spiritual yang menjadi pusat denyut nadi keagamaan warga.
Bersama para pengurus masjid, jamaah, dan elemen masyarakat lainnya, para pegawai KUA bahu-membahu membersihkan setiap sudut masjid. Sapu lidi mengusap debu-debu di lantai, kain lap mengelap kaca-kaca jendela agar cahaya Ilahi masuk lebih terang, dan tangan-tangan mungil maupun keriput bekerja sama menyapu halaman.
Suasana terasa begitu kompak dan penuh suka cita. Di tengah deru sapuan dan ember air, terdengar lantunan dzikir dan sholawat yang mengalun lembut. Setiap tetes keringat yang menetes di pelataran Masjid Sabilillah bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bentuk taharah (pensucian) jiwa. Membersihkan masjid berarti membersihkan hati dari kotoran dunia, menyiapkan diri menyambut kehadiran Allah SWT di rumah-Nya dengan keadaan suci lahir dan batin.
"Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian." (QS. At-Taubah: 18)
Gerakan Geber Mas Bro ini berjalan lancar, meninggalkan kesan mendalam tentang persaudaraan ukhuwah islamiyah yang kuat. Tidak ada sekat antara pejabat dan rakyat, antara tua dan muda, semua sama-sama hamba yang ingin berkontribusi untuk kemuliaan rumah Allah.
Hari ini, KUA Kecamatan Bantaran telah membuktikan dua wajah pengabdian dalam wajah administratif yang amanah melalui program MAHAR, dan wajah sosial yang rendah hati melalui gerakan kebersihan masjid. Semoga setiap langkah kami, dari tanda tangan di atas kertas hingga sapuan di lantai masjid, diterima sebagai amal jariyah yang tak terputus.
Semoga Masjid Sabilillah Bantaran selalu menjadi mercusuar cahaya, dan setiap majelis ta’lim di Bantaran semakin berjaya dengan legalitas yang jelas.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. 🤲✨🕌
#KUA_Bantaran #MAHAR #GeberMasBro #MasjidSabilillah #PelayananAmanah #BersihItuSebagianIman #ProbolinggoReligi #KemenagRI #Lillah
Penulis : Dechi Handini PAI Kecamatan Bantaran